Senin, 28 November 2016

Teknik Penulisan Referensi

Teknik Penulisan Referensi
(Footnote, Endnote and Parenthetical Reference Method)
Kompilasi oleh Muliadi Nur


FOOTNOTE (CATATAN KAKI)
Istilah Catatan Kaki (footnote)
Catatan kaki, atau dikenal dengan istilah footnote adalah keterangan tambahan yang
terletak di bagian bawah halaman dan dipisahkan dari teks karya ilmiah oleh sebuah garis
sepanjang dua puluh ketukan (dua puluh karakter)1.

Kegunaan Catatan Kaki (footnote)

  1. Menjelaskan referensi yang dipergunakan bagi pernyataan dalam teks (catatan kaki sumber atau reference footnote).
  2. Menjelaskan komentar penulis terhadap pernyataan dalam teks yang dipandang penting, tetapi tak dapat dinyatakan bersama teks karena dapat mengganggu alur tulisan.
  3. Menunjukkan sumber lain yang membicarakan hal yang sama (catatan kaki isi atau content footnote). Jenis catatan kaki ini biasanya menggunakan kata‐kata: Lihat …, Bandingkan …, dan Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam …, dan sebagainya. Dianjurkan penggunaannya tidak berlebihan agar tidak menimbulkan kesan pamer. Penggunaan ungkapan tersebut perlu secara konsisten dan benar.

Note: Catatan kaki sebaiknya tidak melebihi sepertiga halaman. Sekiranya halaman tidak
memungkinkan, sebagian dari catatan kaki dapat diletakkan di halaman berikutnya.

1Contoh catatan kaki, atau dikenal dengan istilah footnote adalah keterangan tambahan yang terletak di bagian bawah halaman dan dipisahkan dari teks karya ilmiah oleh sebuah garis sepanjang dua puluh ketukan (dua puluh karakter).



TEKNIK PENULISAN FOOTNOTE
UNTUK BUKU
Unsur yang diperlukan dicantumkan adalah:

  1. Nama Pengarang,
  2. Judul Buku yang ditulis dengan huruf italic,
  3. Jilid,
  4. Cetakan,
  5. Tempat Penerbit,
  6. Nama Penerbit,
  7. Tahun diterbitkan, dan
  8. Halaman (disingkat h. saja, baik untuk satu halaman maupun beberapa halaman) dari mana referensi itu berasal.
Note: Data penerbitan, mulai dari cetakan, tempat penerbit, nama penerbit, dan tahun
diterbitkan, diletakkan di dalam kurung. Contohnya:

1Muhammad Ibn ‘Abdillah al‐Zarkasyiy, al‐Burhân fî ‘Ulum al‐Qur’an, Juz
IV (Cet. I; Cairo: Dar Ihya’ al‐Kutub al‐Arabiyah, 1958 M/1377 H), h. 34‐35.



UNTUK ARTIKEL DALAM SURAT KABAR DAN MAJALAH
Unsur yang perlu dicantumkan adalah:

  1. Nama Pengarang/Penulis Artikel (kalau ada),
  2. Judul Artikel (di antara tanda kutip),
  3. Nama Surat Kabar (huruf italic),
  4. Nomor Edisi, Tanggal, dan Halaman.

Note: Jika yang dikutip bukan artikel tetapi berita atau tajuk atau lainnya, maka yang
dicantumkan adalah judul tajuk atau beritanya (di antara tanda kutip), diikuti dengan
penjelasan apakah itu tajuk atau berita yang dituliskan di antara kurung siku [ ], diikuti nama
surat kabar (huruf italic), nomor terbitan, tanggal, dan halaman. Contohnya:

2Sayidiman Suryohadiprojo, “Tantangan Mengatasi Berbagai Kesenjangan”,
Republika, No. 342/II, 21 Desember 1994, h. 6.
3”PWI Berlakukan Aturan Baru” [Berita], Republika, No. 346/II, 28 Desember
1994, h. 16.
4Bachrawi Sanusi, “Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi,” Panji Masyarakat,
No. 808, 1‐10 Nopember 1994, h. 30.


UNTUK BUKU YANG MEMUAT ARTIKEL‐ATIKEL DARI BERBAGAI PENGARANG
Bila mengutip buku yang seperti ini, maka perlu diperhatikan artikel yang dikutip, dan siapa
pengarangnya. Unsur yang perlu disebutkan adalah:

  1. Nama Penulis Artikel,
  2. Judul Artikelnya di antara tanda kutip,
  3. Nama Editor Buku (kalau ada) atau Nama Pengarang Artikel Pertama, diikuti istilah et al. atau dkk. (karena tentu banyak orang yang menyumbangkan artikel),
  4. 4. Data Penerbitan, dan
  5. 5. Halaman.


Contohnya:

5M. Dawam Rahadjo, “Pendekatan Ilmiah terhadap Fenomena Keagamaan,”
dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (eds.), Metodologi Penelitian Agama
(Cet. II; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h. 24.
6Sahiron Syamsuddin, “Hamka’s Political Thougt as Expressed in His Tafsir Al‐
Azhar
,” dalam Sry Mulyati dkk., Islam & Development: A Politico Religious
Response
 (Montreal, Canada: Permika, 1997), h. 244.



UNTUK ARTIKEL ATAU ENTRI DAN ENSIKLOPEDIA
Unsur yang perlu dicantumkan adalah:
1. Nama Penulis Entri (jika ada),
2. Judul Entri di antara dua tanda kutip,
3. Nama Editor Ensiklopedia (kalau ada),
4. Nama Ensiklopedia (huruf italic),
5. Jilid,
6. Data Penerbitan, dan
7. halaman.

Contohnya:

7Beatrice Edgel, “Conception”, dalam James Hastings (ed.), Encyclopedia of
Religion and Ethics
, jilid 3 (New York: Charles Schribner’s Son, 1979), h. 769.



KUTIPAN DARI UNDANG‐UNDANG DAN PENERBITAN RESMI PEMERINTAH
Unsur yang perlu dicantumkan adalah:
1. Nama Instansi yang berwenang,
2. Judul Naskah (huruf italic).

Note: Jika data dikutip dari sumber sekunder, maka unsur sumber tersebut dicantumkan
dengan menambahkan unsur‐unsur nama buku (huruf italic), dan data penerbitan. Jika
sumber sekunder tersebut mempunyai penyusun, maka nama penyusun ditempatkan
sebelum nama buku dan nama penerbit dimasukkan sebagai data penerbit.

Contoh:
8Republik Indonesia, Undang‐undang Dasar 1945, Bab I, pasal 1.
9Republik Indonesia, “Undang‐Undang RI Nomor 2 Tahun 1985 Tentang Perubahan atas Undang‐Undang No. 15 Tahun 1969,” dalam Undang‐Undang Keormasan (Parpol & Golkar) 1985 (Jakarta: Dharma Bhakti, t.th.), h. 4.
10Republik Indonesia, “Undang‐Undang RI Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara,” dalam S.F.. Marbun, Peradilan Tata Usaha Negara
(Yogyakarta: Liberty, 1988), h. 198.



PENOMORAN
Catatan kaki diberi nomor sesuai dengan nomor pernyataan terkait. Penomoran dimulai
pada setiap awal bab. Nomor diketik setengah spasi di awal catatan kaki dengan jarak tujuh
ketukan dari margin kiri.

Contohnya:
11’Ali Rida, al‐Marja’ fi al‐Lugat al‐‘Arabiyyah (Beirut: Dar al‐Fikr, t.th.), h.
254.
12Ibid., h. 300.



PENTING UNTUK DIPERHATIKAN
  1. Bila catatan kaki lebih dari satu baris maka baris kedua dan selanjutnya diketik di awal margin kiri.
  2. Antara baris terakhir teks dengan nomor catatan kaki diberi garis sepanjang dua puluh ketukan sebagai pembatas. Antara baris terakhir teks dengan garis pembatas itu berjarak dua spasi, sedang jarak antara garis pembatas itu dengan teks catatan kaki berjarak dua spasi juga.
  3. Jarak baris terakhir sebuah catatan kaki dengan baris pertama catatan kaki berikutnya adalah dua spasi.
  4. Nama pengarang dalam catatan kaki tetap seperti tercantum dalam karyanya. Tak ada“pembalikan” nama seperti dalam Daftar Pustaka.
  5. Pada catatan kaki harus disebutkan halaman buku yang dikutip dengan menggunakan singkatan h. baik untuk satu halaman atau pun lebih. Contohnya: h. 55‐67; bukan hh. 55‐67.
  6. Pemakaian hasil wawancara yang disebutkan dalam teks hendaknya dibatasi karena sifatnya hanya sebagai pelengkap. Jika penelitian memerlukan wawancara sebagai sumber data utama maka catatan kakinya ditulis dengan menyebutkan nama orang yang diwawancarai dan jabatannya, yang didahului dengan kalimat: Hasil wawancara dengan, kemudian tanggal dan tempat wawancara. Untuk wawancara tidak menggunakan op. cit., loc. cit., dan ibid. sehingga keterangannya harus diulang terus.



ISTILAH Ibid, op. cit. DAN loc. cit.
Istilah Ibid. (singkatan dari ibidem) digunakan untuk menunjuk sumber yang sama, yang
baru saja disebut tanpa ada yang mengantarai keduanya (sama halaman atau tidak). Jika
halaman yang dikutip sama, maka nomor halaman tidak dicantumkan lagi. Kalau kata ibid.
terletak di awal catatan kaki, huruf awalnya ditulis dengan huruf capital (Ibid), sedang bila
terletak di tengah kalimat, misalnya sesudah kata‐kata “Disadur dari” maka huruf
pertamanya ditulis dengan huruf kecil (ibid).

Istilah op. cit. (singkatan dari opera citato, dan singkatan harus diberi spasi diantaranya, op.
cit., bukan op.cit.) menunjuk kepada sumber yang sama telah disebut terdahulu tetapi di
antarai oleh sumber lain yang tidak sama halamannya. Istilah ini (op. cit.) digunakan sesudah
menyebutkan nama pengarang. Jika halaman yang dikutip sama, maka digunakan istilah loc.
cit. (singkatan dari loco citato).

Contohnya:
14Muhammad Ali al‐Sabuniy, al‐Tibyan fi ‘Ulum al‐Qur’an (Cet. I; Beirut:
‘Alam al‐Kutub, 1985), h. 22.
15Ronny Hanitijo Sumitro, Metodologi Penelitian Hukum (Cet. I; Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1983), h. 35.
16Ibid., h. 40.
17 Muhammad Ali al‐Sabuny, op. cit., h. 30.
18Ronny Ngatijo Sumitro, loc. cit.


UNTUK DUA KARYA ATAU LEBIH DARI SEORANG PENULIS
Sering terjadi dua karya atau lebih dari seorang penulis dipergunakan dalam sebuah bab,
dicantumkan sandi untuk masing‐masing karya tersebut, tanpa perlu menggunakan
singkatan op. cit. atau loc. cit. Sandi diambil dari kata yang terdapat dalam judul karya.

Contohnya:
19Muhammad Ali al‐Sabuniy, Rawa’i al‐Bayan fi Tafsir al‐Ahkam min al‐
Qur’an
, Jilid I (t.t.: Dar al‐Fikr, t.th.), h. 57.
20Ronny Ngatijo Sumitro, loc. cit.
21Muhammad Ali al‐Sabuniy, Rawa’i, h. 54.

Dalam catatan kaki no. 21 di atas, kata Rawa’i adalah sandi untuk membedakan referensi
dari buku al‐Sabuniy lainnya yang juga digunakan dalam penulisan skripsi/tesis/disertasi,
yaitu al‐Tibyan, yang sebutkan dalam catatan kaki no. 14.




MENGUTIP DARI BUKU YANG DITERJEMAHKAN
Unsur yang perlu dicantumkan adalah:

  1. Nama Pengarang Asli,
  2. Judul (huruf italic, kalau diketahui), diikuti dengan kalimat: diterjemahkan oleh diikuti nama penerjemah,
  3. judul buku terjemahan (huruf italic),
  4. data penerbitan, dan
  5. halaman.


Note: Bila judul asli tidak disebutkan, maka judul terjemahan saja yang dicantumkan.

Contohnya:
21Wahbah al‐Zuhayliy, al‐Qur’an al‐Karim, Bunyatuh al‐Tasyri’iyyah wa
Khasa’isuh al‐Hadariyyah
, diterjemahkan oleh Mohammad Luqman Hakiem dan
Mohammad Fuad Hariri dengan judul al‐Qur’an: Paradigma Hukum dan
Peradaban
 (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 141.
Seandainya dalam contoh di atas, judul aslinya tidak diketahui, maka kalimat teks footnote
ini adalah sebagai berikut:

22Wahbah al‐Zuhayliy, Al‐Qur’an: Paradigma Hukum dan Peradaban,
diterjemahkan oleh Mohammad Luqman Hakiem dan Mohammad Fuad Hariri
(Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 141.


Penulisan Referensi dengan Endnote
Endnote adalah catatan akhir, yakni referensi yang diletakkan di akhir suatu karya ilmiah,
sebelum Daftar Pustaka.
Dalam program komputer, cara pembuatan endnote persis sama dengan footnote, hanya
letaknya saja yang harus diset di akhir karya ilmiah. Ketentuan‐ketentuan yang berlaku
untuk footnote, juga berlaku untuk endnote, termasuk ketentuan untuk Daftar Pustaka.


Parenthetical Reference
parenthetic(al)
ks. 1 yang disisipkan. 2 dalam tanda kurung. ‐parentthetically kk. dengan sisipan, sambil lalu.
Referensi seperti ini hanya berfungsi untuk menunjukkan referensi suatu pernyataan, baik
itu saduran atau kutipan langsung. Parenthetical reference diletakkan di dalam teks, diapit
oleh kurung. Informasi yang perlu disebutkan adalah nama akhir pengarang yang langsung
diikuti tahun terbitnya buku referensi, diikuti oleh koma, kemudian diikuti oleh nomor
halaman.

Contohnya:
… Ini berarti bahwa kita harus mencari kenyataan pemikiran Islam yang dapat
dikatakan mewakili Indonesia, namun pada waktu yang sama juga mempunyai
kaitan yang nyata dengan pemikiran Islam secara umum (Madjid 1995, 23).

Jumat, 25 November 2016

Bahasa Indonesia For Scientific Writing

PEDOMAN ARTIKEL BAHASA INDONESIA
(Judul Artikel, Memberi Gambaran Penelitian yang Telah Dilakukan, Times New Roman 11, spasi 1, spacing after 6 pt)
Nama Penulis Pertama (Times New Roman 11, Bold, spasi 1)
Afiliasi (Universitas) dan Alamat Surel (Times New Roman 10, spasi 1, spacing after 6 pt)
Nama Penulis Kedua, dan seterusnya
Afiliasi (Universitas) dan Alamat Surel
Nama Penyunting
Afiliasi (NIM, Program Studi, Fakultas, Universitas) dan Alamat Blog
Abstrak (Times New Roman 10, Bold, spasi 1, spacing before 12 pt, after 2 pt)
Abstrak memuat uraian singkat mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang digunakan, dan hasil penelitian. Tekanan penulisan abstrak terutama pada hasil penelitian. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pengetikan abstrak dilakukan dengan spasi tunggal dengan margin yang lebih sempit dari margin kanan dan kiri teks utama. Kata kunci perlu dicantumkan untuk menggambarkan ranah masalah yang diteliti dan istilah-istilah pokok yang mendasari pelaksanaan penelitian. Kata-kata kunci dapat berupa kata tunggal atau gabungan kata. Jumlah kata-kata kunci 3—5 kata.  Kata-kata kunci ini diperlukan untuk komputerisasi. Pencarian judul penelitian dan abstraknya dipermudah dengan kata-kata kunci tersebut.
Kata Kunci: isi, format, artikel.
Abstract
An abstranct is a brief summary of a research article, thesis, review, conference proceeding or any-depth analysis of a particular subject or disipline, and is often used to help the reader quickly ascertain the paper purposes. When used, an abstract always appears at the beginning of a manuscript or typescript, acting as the point-of-entry for any given academic paper or patent application. Absatrcting and indexing services for various academic discipline are aimed at compiling a body of literature for that particular subject. Abstract length varies by discipline and publisher requirements. Abstracts are typically sectioned logically as an overview of what appears in the paper.
Keywords: content, formatting, article

PENDAHULUAN
(Times New Roman 10, Bold, spasi 1, spacing before 12 pt, after 2 pt)
Bagian pendahuluan terutama berisi (1) permasalahan penelitian; (2) wawasan dan rencana pemecahan masalah;  (3) rumusan tujuan penelitian; (4) rangkuman kajian teoretik yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pada bagian ini kadang-kadang juga dimuat harapan akan hasil dan manfaat penelitian. Panjang bagian pendahuluan sekitar 2—3 halaman dan diketik dengan 1,5 spasi (atau mengikuti ketentuan penulisan jurnal ilmiah tempat artikel tersebut hendak diterbitkan).
Template untuk format artikel ini dibuat dalam MS Word 2007 dan selanjutnya disimpan dalam format rtf. Batang tubuh teks menggunakan font: Times New Roman 10, regular, spasi 1.15, spacing before 0 pt, after 0 pt)
METODE
Pada dasarnya, bagian ini menjelaskan proses penelitian itu dilakukan. Materi pokok bagian ini adalah  (1) rancangan penelitian; (2) populasi dan sampel (sasaran penelitian); (3) teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen; (4) dan teknik analisis data. Untuk penelitian yang menggunakan alat dan bahan, perlu dituliskan spesifikasi alat dan bahannya. Spesifikasi alat menggambarkan kecanggihan alat yang digunakan, sedangkan spesifikasi bahan menggambarkan macam bahan yang digunakan. Untuk penelitian kualitatif seperti penelitian tindakan kelas, etnografi, fenomenologi, studi kasus, dan lain-lain, perlu ditambahkan kehadiran peneliti, subjek penelitian, informan yang ikut membantu beserta cara-cara menggali data-data penelitian, lokasi dan lama penelitian serta uraian mengenai pengecekan keabsahan hasil penelitian.
Sebaiknya dihindari pengorganisasian penulisan ke dalam “anak sub-judul” pada bagian ini. Namun, jika tidak bisa dihindari, cara penulisannya dapat dilihat pada bagian “Hasil dan Pembahasan”.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bagian ini merupakan bagian utama artikel hasil penelitian dan biasanya merupakan bagian terpanjang dari suatu artikel. Hasil penelitian yang disajikan dalam bagian ini adalah hasil “bersih”. Proses analisis data seperti perhitungan statistik dan proses pengujian hipotesis tidak perlu disajikan. Hanya hasil analisis dan hasil pengujian hipotesis saja yang perlu dilaporkan. Tabel dan grafik dapat digunakan untuk memperjelas penyajian hasil penelitian secara verbal. Tabel dan grafik harus diberi komentar atau dibahas.
Untuk penelitian kualitatif, bagian hasil memuat bagian-bagian rinci dalam bentuk sub topik-sub topik yang berkaitan langsung dengan fokus penelitian dan kategori-kategori.
Pembahasan dalam artikel bertujuan untuk: (1) menjawab rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyaan penelitian; (2) menunjukkan bagaimana temuan-temuan itu diperoleh; (3) menginterpretasi/menafsirkan temuan-temuan; (4) mengaitkan hasil temuan penelitian dengan struktur pengetahuan yang telah mapan; dan (5) memunculkan teori-teori baru atau modifikasi teori yang telah ada.
Dalam menjawab rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyaan penelitian, hasil penelitian harus disimpulkan secara eksplisit. Penafsiran terhadap temuan dilakukan dengan menggunakan logika dan teori-teori yang ada. Temuan berupa kenyataan di lapangan diintegrasikan/ dikaitkan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya atau dengan teori yang sudah ada. Untuk keperluan ini harus ada rujukan. Dalam memunculkan teori-teori baru, teori-teori lama bisa dikonfirmasi atau ditolak, sebagian mungkin perlu memodifikasi teori dari teori lama.
Dalam suatu artikel, kadang-kadang tidak bisa dihindari pengorganisasian penulisan hasil penelitian ke dalam “anak subjudul”. Berikut ini adalah cara menuliskan format pengorganisasian tersebut yang di dalamnya menunjukkan cara penulisan hal-hal khusus yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah artikel.

Gambar dan Tabel

Tempatkan label tabel di atas tabel, sedangkan label gambar di bagian bawah tabel. Tuliskan tabel tertentu secara spesifik, misalnya Tabel 1, saat merujuk suatu tabel. Contoh penulisan tabel dan keterangan gambar adalah sebagai berikut:
Tabel 1.           Format Tabel
Kepala Tabel
Kepala Kolom   Tabel
Sub-kepala Kolom
Sub-kepala Kolom
Isi
Isi tabel
Isi tabel
Gambar 1. Contoh keterangan gambar

Kutipan dan Sumber Kutipan
Salah satu ciri artikel ilmiah adalah menyajikan gagasan orang lain untuk memperkuat dan memperkaya gagasan penulisnya. Gagasan yang telah lebih dulu diungkapkan orang lain ini diacu (dikutip) dan sumber kutipan dimasukkan dalam Catatan Kaki dan Daftar Rujukan.
Catatan Kaki dan Daftar Rujukan harus lengkap dan sesuai dengan acuan yang disajikan dalam batang tubuh artikel. Artinya, sumber yang ditulis dalam Catatan Kaki dan Daftar Rujukan benar-benar dirujuk dalam tubuh artikel. Sebaliknya, semua sumber kutipan yang kutipannya telah disebutkan dalam artikel harus dicantumkan dalam Catatan Kaki dan Daftar Rujukan. Untuk menunjukkan kaulitas artikel ilmiah, daftar yang dimasukkan dalam Catatan Kaki dan Daftar Rujukan harus cukup banyak (minimal lima). Catatan Kaki dan Daftar Rujukan ditulis sesui aturan yang ditentukan dalam jurnal. Kaidah penulisan kutipan, sumber kutipan, Catatan Kaki, dan Daftar Rujukan mengikuti buku pedoman ini.
Penyajian gagasan orang lain di dalam artikel dilakukan secara langsung dan/atau tidak langsung. Contoh kutipan langsung, “Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seseorang pengarang atau ucapan seseorang yang terkenal, baik terdapat dalam buku-buku maupun majalah.”¹ Jika kutipan itu ditulis  tidak langsung, tanda kutip tidak perlu ditulis.
Sumber kutipan adalah penyebutan sumber gagasan yang dituliskan di dalam teks sebagai (1) pengakuan kepada pemilik gagasan bahwa penulis telah melakukan “peminjaman” bukan penjiplakan, dan (2) pemberitahuan kepada pembacanya siapa dan darimana gagasan tersebut diambil. Sumber tersebut ditulis sesuai aturan penulisan catatan  kaki.

PENUTUP
Simpulan
Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian mengenai hasil dan pembahasan, mengacu pada tujuan penelitian. Berdasarkan kedua hal tersebut dikembangkan pokok-pokok pikiran baru yang merupakan esensi dari temuan penelitian.

Saran
Saran disusun berdasarkan temuan penelitian yang telah dibahas. Saran dapat mengacu pada tindakan praktis, pengembangan teori baru, dan/atau penelitian lanjutan.

DAFTAR RUJUKAN
De Porter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 1992. Quantum Learning. Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Terjemahan oleh Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Penerbit Kaifa.
Keraf, Gorys. 2001. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran BahasaFlores: Nusa Indah.
Sujimat, D. Agus. 2000. Penulisan karya ilmiah. Makalah disampaikan pada pelatihan penelitian bagi guru SLTP Negeri di Kabupaten Sidoarjo tanggal 19 Oktober 2000 (Tidak diterbitkan). MKKS SLTP Negeri Kabupaten Sidoarjo
Suparno. 2000. Langkah-langkah Penulisan Artikel Ilmiah dalam Saukah, Ali dan Waseso, M.G. 2000. Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. Malang: UM Press.
UNESA. 2000. Pedoman Penulisan Artikel Jurnal. Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Surabaya.
Wahab, Abdul dan Lestari, Lies Amin. 1999. Menulis Karya Ilmiah. Surabaya: Airlangga University Press.
Winardi, Gunawan. 2002. Panduan Mempersiapkan Tulisan Ilmiah. Bandung: Akatiga.
(Times New Roman 10, Reguler, spasi 1, spacing before 6 pt, after 6 pt). 


¹ Gorys Keraf, Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa (Flores: Nusa Indah, 2001), hlm. 179.